
Membaca slogan tersebut saya jadi tersadar dari mimpi-mimpi saya selama ini. Ya, selama ini saya baru bisa bermimpi menjadi seorang yang sukses tetapi belum mampu untuk membuat mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan. Tapi saya pun bersyukur saya mampu bermimpi untuk bisa sukses, bermimpi punya mobil mewah, rumah mewah, dsb. Saya juga bermimpi untuk segera bergeser kuadran menuju finansial freedom. Saya bersyukur masih mampu bermimpi karena toh banyak teman-teman saya yang sekedar untuk bermimpi pun selalu takut. Bahkan lebih parahnya dia pun mengolok-ngolok mimpi-mimpi saya. Sungguh keterlaluan memang, masa untuk bermimpi saja mereka tertawakan? Tapi itulah kenyataannya, mereka sudah di tidurlenakan oleh pengaruh kapitalisme global. Mereka dijadikan hamba orang-orang kapitalis untuk selalu mengabdi dan memperkaya para pemilik modal.
Untuk menjadi seorang sukses, seperti kata Andrie Wongso ternyata harus ada proses penyadaran bahwa sukses itu adalah milik saya, milik anda. Artinya ketika kita berpikir untuk sukses kita harus sadar bahwa kita juga memilikinya. Timbul pertanyaan, kalau kita memiliki sukses tersebut kenapa kita masih harus jungkir balik, banting tulang, kadang kepala jadi kaki, kaki jadi kepala hanya untuk sekedar mencari sesuap nasi. Dimana kesuksesan milik kita? Boleh jadi ketika kita bekerja keras, kita sebenarnya tidak sedang menginginkan dan meraih kesuksesan. Tetapi kita hanya berusaha untuk mencari sesuap nasi. Jadi memang harus dibedakan ketika kita sedang berusaha untuk meraih kesuksesan dengan berusaha mencari sesuap nasi. Memang kalau untuk sesuap nasi asal kita mau masuk tempat kerja, bekerja sewajarnya, pasti dapat gaji. Tetapi meraih kesuksesan tidak semudah itu. Keberanian, totalitas, pemikiran dan eksplorasi otak kita sangat diperlukan terutama saat awal-awal usaha kita.
Saya ingat ketika di kampung dulu, saya mempunyai sebuah pohon mangga. Ketika pohon mangga itu berbuah, saya pun gembira. Saya mempunyai banyak buah mangga. Tetapi masalahnya mangga yang saya miliki itu masih tergantung di pohon. Saya perlu menjalani sebuah proses yaitu meraihnya dengan memanjat pohon tersebut untuk bisa menikmatinya. Ternyata agak susah untuk meraih buah mangga tersebut karena pohonnya cukup tinggi. Tetapi saat saya betul-betul menginginkannya, saya pun berusaha sekuat tenaga untuk memetiknya. Saya memanjat pohon mangga tersebut, terkadang harus menggunakan tongkat untuk meraih mangga yang ada di ujung cabang. Bahkan pernah sekali waktu saya terpeleset saat berada diatas pohon untuk memetik buah mangga karena saya betul-betul menginginkannya. Saya hampir terjatuh. Tetapi Allah masih mentakdirkan saya untuk hidup sampai sekarang. Saat saya terpeleset, kaki kanan saya terjepit di celah sebuah cabang sehingga badan saya tergantung dengan kepala kebawah beberapa saat sampai ada orang yang datang menolong saya. Seandainya terjatuh sudah dapat dipastikan kepala saya hancur karena jatuh menimpa akar pohon yang besar-besar dari ketinggian sekitar 2 meter. Tetapi itulah sebuah resiko dari sebuah keinginan. Namun, ketika saya berhasil memetiknya, saya pun telah memilikinya dan sangat menikmati mangga tersebut.
Kesuksesan dapat dianalogikan buah mangga yang tergantung di pohon milik kita. Buah-buah mangga tersebut dapat dipastikan adalah milik kita bukan milik orang lain, bukan? Tetapi apakah lantas kita dapat langsung dapat menikmatinya. Tentu tidak, bukan? Kita harus meraihnya dengan memanjat pohon tersebut untuk memetiknya. Kita harus berjibaku mengeluarkan tenaga, memanjat pohon tersebut yang kadang harus berhadapan dengan maut karena mungkin kita terpeleset dan jatuh dari pohon. Hal itu kita lakukan karena ingin menikmati buah tersebut.
Begitu juga dengan sebuah kesuksesan. Kesuksesan adalah milik kita. Masalahnya adalah kita tidak serta merta dapat menikmatinya tanpa kita sadar bahwa kita menginginkannya dan berusaha sepenuh hati dan sekuat tenaga untuk meraihnya dengan menghadapi berbagai resiko. Oke, marilah kita sama-sama berniat, berusaha dan berjuang untuk meraih kesuksesan demi orang-orang yang kita cintai.



